Oktober 26, 2020

Kampung Cina di Cianjur

Keberadaan warga
keturunan etnis Cina di Cianjur merupakan salah satu ragam
heterogenitas penduduk kota Cianjur. Dari perjalanan panjang sejarah
kota Cianjur, warga Cianjur keturunan Cina memiliki jasa yang cukup
besar dalam perekonomian Cianjur. Berbagai peninggalan bersejarah
dari masa kolonial Belanda yang dibangun oleh warga keturunan Cina
banyak tersebar di Cianjur, terutama di wilayah ibukota Cianjur.
Perempatan Jalan Shanghai
sekitar tahun 1880-an (foto:Trompen Museum)

Hingga kini, masih dapat
dikenal sebutan Jalan Shanghai, untuk salah satu lokasi perempatan di
pusat kota Cianjur. Gedung Wisma Karya yang kini digunakan sebagai
gedung olah raga tenis meja oleh KONI Cianjur juga merupakan salah
satu bangunan peninggalan warga Cina yang memiliki berbagai fungsi.
Tempat peribadatan berupa Vihara (klenteng), di Jl. Mangun Sarkoro
pun menjadi saksi bisu eksistensi warga Cianjur keturunan Cina dari
masa ke masa.

Kehadiran orang-orang
Cina di Cianjur dimulai sekitar awal abad ke-19. Hal ini ditandai
oleh didirikannya Kampung Cina di Cianjur berdasarkan besluit
tanggal 9 Juni 1810. Pada saat itu Kabupaten Cianjur dipimpin oleh
Raden Noh atau Raden Wiranagara, yang lebih dikenal dengan gelar
Raden Adipati Wira Tanu Datar VI. Dengan didirikannya Kampung Cina
pada waktu itu, diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan
tanah-tanah kosong yang ada serta menanaminya dengan tanaman seperti
tembakau, indigo atau kapas.
Arsitektur bangunan peninggalan warga keturunan Cina 


Pendirian Kampung Cina di
Cianjur, waktunya juga bersamaan dengan pendirian kampung Cina di
kabupaten-kabupaten lain yang ada di wilayah Priangan, seperti
Bandung, Parakanmucang, Sumedang, Sukapura, Limbangan, dan Galuh.
Salah satu pertimbangan penting yang dijadikan dasar pendirian
kampung Cina adalah keberhasilan orang-orang Cina dalam meningkatkan
kesejahteraan dan perdagangan di daerah Kedu dan daerah
vorstenlanden lainnya.


Lokasi Kampung Cina di
Cianjur terutama terdapat di wilayah ibukota Cianjur. Hal ini
ditandai dengan populasi warga Cianjur keturunan Cina yang berpusat
di Cianjur kota. Ciri lainnya yang menjadi tanda lokasi Kampung Cina,
adalah bangunan ruko (rumah toko) dengan arsitektur khas yang banyak
ditemukan di wilayah Cianjur kota.

Peninggalan Bersejarah
Obyek-obyek bersejarah
peninggalan warga Cina di Cianjur baik berupa arsitektur, makanan,
maupun tradisi Cina masih dapat ditemukan dengan mudah. Lokasinya
berada di beberapa tempat strategis dan jalan-jalan utama. Di pusat
kota Cianjur, atau lebih dikenal dengan Jalan Raya, hingga kini dapat
ditemukan bangunan-bangunan ruko dengan gaya khas Cina pada masa
kolonial Belanda.
Arsitektur “pelana kuda” menjadi ciri khas bangunan Cina di Cianjur
Arsitektur khas yang
banyak ditemukan yaitu puncak atap yang berbentuk pelana dengan
ornamentasi khas Cina. Bangunan dengan arsitektur semacam ini
terutama masih dapat di lihat di Jl. HOS Cokroaminoto, Jl. Siti
jenab, Jl. Suroso, Jl. Barisan Banteng, Jl. Taifur Yusuf, Jl. Sinar
dan beberapa ruas jalan lainnya di Cianjur Kota. Arsitektur serupa
ditemukan pula di sekitar pasar Warungkondang.

Salah satu ruko bertingkat dua di Jl. Mangun Sarkoro
Di sepanjang Jl. Mangun Sarkoro  (Jalan Raya Cianjur) banyak ruko (rumah toko) yang
dimiliki oleh warga Cianjur keturunan Cina. Ruko-ruko di jalan ini
ada yang arsitekturnya tetap dipertahankan, namun tidak sedikit pula
yang telah mengalami perombakan total. Selain ruko, terdapat juga dua
vihara yang menjadi pusat peribadatan warga Cina hingga sekarang.
Salah satu vihara yang telah menjadi cagar budaya adalah Vihara Bhumi Pharsija, yang dibangun tahun 1880.

Di Jl. Moh. Ali yang
bersimpangan dengan Jl. Mangun Sarkoro terdapat titik yang paling
terkenal dan lekat dengan sejarah pendudukan warga Cina di Cianjur.
Pada masa lalu, jalan ini disebut Jalan Shanghai, namun kini telah
berganti nama. Sebutan Jalan Shanghai hingga kini masih tetap dikenal
oleh warga Cianjur untuk lokasi ini.

Di lokasi ini juga
terdapat beberapa bangunan peninggalan warga Cina pada masa lalu.
Salah satunya yaitu Gedung Wisma Karya. Gedung ini dibangun sekitar
tahun 1950-an oleh warga
keturunan Cina sebagai gedung berbagai kegiatan. Sekitar tahun 1966,
gedung ini dipakai
oleh KAMI/KAPI Cianjur sebagai pusat kegiatan. Sekarang fungsinya
menjadi gedung olah raga tenis meja. Bangunan ini semula menjadi satu
bagian dengan sekolah Cina yang berada di bagian belakangnya.
Sekarang pada bagian belakang gedung ini terdapat beberapa bangunan
sekolah dasar negeri.
Gedung Wisma Karya Cianjur (tampak belakang)
Di daerah Pasir Hayam,
tepatnya di Desa Sirnagalih kecamatan Cilaku, terdapat kompleks besar
pemakaman kuno warga Cina Cianjur. Setidaknya terdapat tiga bukit
utama yang dijadikan sebagai area pemakaman. Makam-makam Cina yang
terdapat di kompleks ini kebanyakan berukuran besar dengan arsitektur
megah khas Cina. Pada beberapa nisan berterakan tulisan Cina, dapat
dilihat usia makam tertua yang dibuat sekitar tahun 1920-an. Saat ini, areal
kompleks pemakaman Cina kuno ini dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan
Kabupaten Cianjur, dan masih digunakan hingga sekarang.
Salah satu sudut kompleks pemakaman kuno Cina 
Kuliner Khas Cina
Sebagai pendongkrak
perekonomian dari masa kolonial Belanda, warga keturunan Cina di
Cianjur memiliki berbagai kegiatan usaha. Beberapa di antaranya tetap
bertahan dari masa kolonial. Dalam bidang kuliner, terdapat tiga
jenis penganan yang cukup dominan dan khas di sekitar kota Cianjur.

Warga Cianjur sudah tentu
kenal dengan makanan tauco. Makanan ini berawal dari resep warga Cina
yang datang ke Cianjur pada masa kolonial. Hingga sekarang, jenis
makanan ini tetap bertahan dan mampu berkembang, bahkan telah diakui
sebagai makanan khas kabupaten Cianjur. Produk tauco Cianjur resep
warga Cina yang eksis hingga sekarang di antaranya yaitu Tauco Cap
Meong. Salah satu varian olahan tauco yang menjadi khas Cianjur
lainnya adalah Geco (tauge-tauco), hingga kini masih dapat di temukan
di beberapa sudut jalan di Cianjur.

Restoran Cina yang mempertahankan arsitektur klasik

Selanjutnya terdapat
manisan buah-buahan, yang merupakan salah satu olahan makanan dengan
tujuan untuk membuat buah mampu bertahan lama. Resepnya diperoleh
sejak jaman dahulu. Manisan buah juga telah dinobatkan sebagai
makanan khas Cianjur. Kemudian, warga Cianjur sangat mengenal olahan
roti. Salah satu yang terkenal yaitu pabrik roti Tan Keng Cu.
Mengenai olahan ini, cukup unik bila ditelusuri sejarahnya. Pada
awalnya roti diproduksi untuk memenuhi permintaan penduduk Eropa di
Cianjur. Hingga kini, produksi roti Tan Keng Cu tetap bertahan dan
telah mengalami perkembangan.


Selain tiga olahan khas
yang cukup dominan, di Cianjur juga banyak ditemukan kuliner khas
Cina seperti capcay, kwetiaw, siomay, bakso, bakpau, bacang,
dll. Untuk mendapatkannya, cukup mendatangi toko-toko kue dan
restoran Cina yang ada di sekitar Cianjur kota. ***iNs

  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *