Menelusuri Makam Bupati-bupati Cianjur Lama

Salam Heritage!

Penelurusan saya kali ini yaitu mengenai beberapa makam para Bupati Cianjur lama yang telah berjasa dalam pembangunan Cianjur dari masa ke masa. Mungkin sahabat kebanyakan lebih mengenal makam Dalem Cikundul, kan? Ya, makam yang dimaksud adalah tempat peristirahatan terakhir perintis berdirinya Cianjur yaitu Raden Aria Wiratanu I, disebut pula sebagai Raden Jayasasana. Makam tersebut berlokasi di kampung Cikundul kecamatan Cikalongkulon. Kini makam perintis berdirinya kabupaten Cianjur tersebut telah dilindungi dan termasuk kedalam benda cagar budaya Cianjur.

Perlu sahabat ketahui juga bahwa terdapat beberapa makam bupati Cianjur -atau yang lebih populer dengan istilah Dalem– di masa lalu yang ternyata berada dekat dengan pusat kota Cianjur saat ini. Karena berada dekat dengan pusat kota, tak ada salahnya kita sesekali berziarah untuk mendoakan para pemimpin Cianjur di masa lalu ini dan menghyati nilai-nilai perjuangan mereka.

Nah, dimana saja lokasi bersejarah tersebut? Berikut ini hasil penelusuran yang saya lakukan sekitar bulan Agustus 2012 di tiga lokasi sekitar pusat kota Cianjur.

Kompleks Pemakaman Pasarean Agung

Lokasi pertama yaitu kompleks pemakaman Pasarean Agung yang berada di kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur kota. Gerbang utama untuk memasuki kompleks ini berada di Jalan Otto Iskandar Dinata (OTISTA), tidak jauh dari gedung veteran Djuang. Lokasinya berada di sebelah barat Masjid Agung Cianjur dengan jarak sekitar 200 meter. Saat ini kompleks pemakaman Pasarean Agung masih digunakan sebagai tempat pemakaman umum (TPU) dan selalu ramai dikunjungi para penziarah saat hari-hari besar agama Islam. Bagian sebelah utara kompleks ini dialiri sungai kecil bernama Ciraden yang juga digunakan untuk irigasi dan batas areal pemakaman. Posisi makam umumnya membujur utara-selatan karena TPU ini diperuntukan bagi masyarakat muslim.

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari pengelola TPU, setidaknya terdapat lima makam Dalem Cianjur. Lokasinya berada di antara makam masyarakat umum, sehingga bila kita hanya sekilas berlalu, kecil kemungkinan akan menemukan salah satu darinya. Saya pun baru dapat menemukan kelima makam itu setelah diantar oleh petugas TPU.

1. Makam R.A.A Kusumahningrat (Dalem Pancaniti)

R.A.A Kusumahningrat atau yang lebih luas dikenal sebagai Dalem Pancaniti yang mempopulerkan seni Tembang Mamaos Cianjuran. Beliau adalah bupati Cianjur ke- yang memerintah tahun 1834-1862.

Posisinya berada di sebelah utara kantor TPU Pasarean Agung, dekat dengan sungai Ciraden. Kondisi makam sudah mengalami perbaikan dan sudah tidak tampak seperti makam kuno. Ciri klasik masih dapat terlihat dari dua buah tutunggul (nisan) berbentuk silinder yang mengerucut ke atas seperti bunga honjé (kecombrang) dan terbuat dari batu alam. Pada bagian ujungnya terdapat ukiran yang khas. Badan makam terdiri atas tiga undak dengan bahan lapisan campuran, semakin ke atas semakin mengecil.

Prasasti nisan yang terdapat di bagian selatan badan bertuliskan R.A.A. KUSUMAHNINGRAT-Kangjeng Pancaniti-Bupati Cianjur Th. 1834-Wafat th. 1863. Bagian utara badan makam ditulisi angka 86 sebagai nomor registrasi di TPU Pasarean Agung. Meski tidak diberi cungkup (atap), kondisinya kini cukup terawat dengan baik.

2. Makam R.A.A Wiratanudatar III (Dalem Sepuh)

Makam yang didominasi dengan warna putih berlapis keramik ini memiliki tiga undakan. Pada prasasti yang dipasang di undakan ketiga badan makam tertulis R.A.A WIRATANUDATAR III (SEPUH). Pada masa hidupnya, beliau memimpin Cianjur tahun 1707-1727.

Kedua nisan yang berada di atas badan makam berbentuk gugunungan pipih dan memiliki motif bunga di bagian tengahnya. Nisan ini terbuat dari bahan campuran semen dan telah terdapat retakan. Kondisi makam ini agak rusak, terdapat beberapa retakan dan keramik yang pecah pada badan makam.

3. Makam R.A.A Prawiradiredja

Makam ketiga yang saya kunjungi yaitu makam R.A.A Prawiradiredja. Keadaannya paling terawat dengan dikelilingi pagar besi. Badan makam terdiri dari dua undakan dan dua buah nisan di atasnya. Pada nisan sebelah utara terdapat prasasti bertuliskan R.A.A PRAWIRADIREDJA -Bupati Tjiandjur- 1804-1910-Wafat 17 Maret 1910/ 5 Maulud 1330, juga bernomor registrasi 177 dengan cat kuing. Di dalam lingkupan pagar besi terdapat tiga makam lainnya yang masih berkerabat dengan R.A.A Prawiradiredja.

4. Makam R.A.A Wiratanudatar (Dalem Sabirudin)

R.A.A Wiratanudatar atau lebih akrab disebut dengan Dalem Sabirudin adalah bupati Cianjur ke-4 yang memerintah tahun 1727-1761 Makamnya terdiri dari tiga undakan, dengan dua buah nisan di atasnya ditandai dengan warna biru. Warna biru juga diberikan pada prasasti yang terpasang di undakan paling atas bertuliskan R.A.A WIRATANUDATAR – (Sabirudin). Makam ini bernomor regstrasi 199.

Posisinya berada sebelah selatan dekat jalan utama kompleks pemakaman. Bila berjalan masuk dari pintu gerbang kompleks, posisinya berada di sebelah kiri. Dengan ciri warna biru yang kontras dengan badan makam yang keabu-abuan, cukup mudah untuk menemukan posisi makam bersejarah ini. Kondisinya cukup baik meskipun pada undakan kedua dan ketiga terdapat beberapa bekas tambalan semen dari retakan yang cukup besar.

Makam Dalem Sabirudin tahun 1982 (foto:Bayu Suryaningrat)

5. Makam R.H. Muhjidin

Makam R.H. Muhjidin ini unik, karena memiliki ukuran setengah kali dari ukuran normal makam pada umumnya. Bentuknya persegi empat, dengan hanya satu undakan badan. Terdapat dua jenis nisan, yaitu nisan lama yang dirapatkan dan nisan baru bertuliskan R.H. MUHJIDIN bin R.A.A Wiratanudatar V – Muhjidin. Beliau memerintah dari tahun 1761-1776.

Ukuran makam yang tinggal setengah ini menurut pengelola TPU diubah berdasarkan pertimbangan efisiensi ruang, karena jumlah makam yang semakin banyak namun lahan yang terbatas. Posisinya berseberangan dengan makam Dalem Sabirudin. Bila berjalan dari gerbang masuk, makam ini berada di sebelah kanan, dan berada sebelum makam Dalem Sabirudin.

Kompleks Pemakaman Pamoyanan

Kompleks pemakaman Pamoyanan posisinya lebih ke arah barat dan selatan dari kompleks Pasarean Agung. Masih berada di kawasan kelurahan yang sama, kompleks pemakaman Pamoyanan berjarak sekitar 450 meter dari Masjid Agung Cianjur. Bila ditarik garis lurus ke arah barat, posisinya kira-kira sejajar dengan pendopo kabupaten. Kompleks ini merupakan kompleks pemakaman umum terluas di pusat kota Cianjur dan bagian utaranya bersatu dengan kompleks Pasarean Agung. Posisi makam umumnya berorientasi utara-selatan karena kompleks ini digunakan oleh penduduk muslim.

Kompleks makam Pamoyanan telah dipergunakan sejak awal pemerintahan Cianjur pindah ke daerah Pamoyanan ini. Di sebelah selatan kompleks membentang sungai Cianjur dengan diselingi rimbunnya pepohonan. Sungai ini adalah sungai terbesar dan utama di kota Cianjur yang menjadi cikal bakal nama kabupaten Cianjur. Kini lokasi kompleks makam telah bercampur dengan pemukiman penduduk. Jalan utama yang dahulu dipakai sebagai akses utama makam, saat ini digunakan pula untuk akses ke perkampungan yang ada di sekitarnya.

Di bagian sudut selatan kompleks pemakamaan ini terdapat sekumpulan makam bupati Cianjur yang terpelihara dengan baik. Terdapat tiga buah makam besar yang berdampingan dengan dilingkupi benteng bata setinggi 2 meter. Menurut juru kunci sekaligus juru pelihara kelompok makam ini, pemeliharaan dan perbaikan dilakukan oleh keluarga Dalem yang dimakamkan di tempat ini. Pada waktu-waktu tertentu, keluarga Dalem sering berziarah ke makam ini.

1. Makam Wiratanudatar II (Dalem Tari Kolot)

Makam ini berada paling barat dari ketiga makam, dengan dua undakan badan. Batu nisan-prasasti terdapat di bagian utara (kepala), dipahat pada marmer hitam dengan cat emas bertuliskan RADEN KANJENG DALEM WIRATANU DATAR II – (TARI KOLOT) – CIANJUR. Mungkin yang dimaksud Wiratanu Datar II di sini adalah R.A.A Wiratanu II (tanpa gelar Datar). Wiratanu II memerintah Cianjur tahun 1691-1707.

2. Makam Wiratanudatar IV (Dalem Dicondre)

Wiratanudatar IV atau lebih dikenal sebagai Dalem Dicondre karena mengalami sebuah peristiwa tragis yang menimpanya (ditusuk dengan condré). Posisi makam berada di tengah, berundak dua dan bernisan satu di sebelah utara. Nisan berbahan marmer hitam ini bertuliskan RADEN KANJENG DALEM WIRATANU DATAR IV – (DALEM DICONDRE) – CIANJUR. Tulisan dicat dengan warna emas.

3. Makam Wiratanudatar III (Dalem Tari Sepuh)

Saat CH melihat nisan makam ini bertuliskan RADEN KANJENG DALEM WIRATANU DATAR III (TARI SEPUH) timbul pertanyaan, mengapa terdapat dua buah makam Wiratanu Datar III? Selain di tempat ini, sebuah lagi terdapat di kompleks Pasarean Agung. Hal ini belum sempat dikonfirmasi dengan juru kunci di Pamoyanan maupun pengelola kompleks makam Pasarean Agung.

Kondisi makam Dalem Tari Sepuh ini sama dengan dua makam di sebelahnya, nisan berbahan marmer hitam ditulis dengan cat warna emas di sebelah utara (kepala). Tepat di dekat makam ini terdapat enam buah tutunggul nisan lama berbahan campuran semen. Seluruh nisan tersebut dikumpulkan di sudut bagian dalam benteng.

Kondisi ketiga makam yang sama di tahun 1982 (foto:Bayu Suryaningrat)

Kompleks Pemakaman Pasar Baru

Kompleks ini merupakan lokasi ketiga yang saya telusuri, dan merupakan kompleks pemakaman terkecil. Hanya terdapat tak lebih dari 50 makam yang dikelilingi bangunan penduduk. Makam-makam yang berada di kompleks ini keadaannya ada yang telah hancur dan beberapa masih utuh, termasuk makam salah satu bupati Cianjur. Dari penelusuran saya setidaknya terdapat satu makam bupati Cianjur, yaitu Dalem Tumenggung Wiranagara bupati Cianjur ke-8.

Makam ini adalah makam terbesar dan bentuknya paling baik dari makam-makam yang ditelusuri sebelumnya. Mungkin karena telah dilakukan perbaikan. Badan makam terdiri dari tiga undak dengan dua buah tutunggul berbentuk silinder (lingga) dengan bahan batu alam. Arah menghadapnya sama dengan makam-makam lain di sekitarnya, berorientasi utara-selatan. Nisan-prasasti ditempatkan terpisah di bagian selatan bertuliskan DALEM TUMENGGUNG WIRANAGARA- 1833-1834. Wiranagara adalah bupati Cianjur ke-… yang menjabat hanya selama satu tahun sebagai bupati.

Makam Rd. Etje Madjid, Seniman Padaleman Cianjur

Selain makam tersebut, ada sebuah makam lainnya yang menjadi perhatian saya. Sebuah makam antik berbentuk kacapi indung. Makam ini adalah peristirahatan terakhir dari Raden Etje Madjid, salah satu tokoh penting dalam penyebaran dan pengembangan seni tembang Mamaos Cianjur. Pada nisan bertuliskan R.ETJE MADJID BIN NATAWIREDJA – Lahir di Cianjur – Wafat di Cianjur th. 1928. R. Etje Madjid adalah ayah dari R. Tjetje Somantri, tokoh kreator tari terkemuka di Jawa Barat.

Mengenai kerancuan penanggalan dan penamaan pada beberapa makam Dalem ini, perlu dilakukan peninjauan dan penelitian lebih jauh dan lebih mendalam.

Oke, Sob! Itulah hasil penelusuran saya ke makam para Bupati Cianjur, yang telah memimpin Cianjur dari masa ke masa. Keberadaan makam-makam tersebut merupakan bukti sejarah perjalan Cianjur yang harus dijaga dan dipelihara dengan baik. Masih terdapat makam bersejarah lainnya yang merupakan makam Dalem Cianjur atau kerabat Dalem, namun belum sempat saya telusuri. Informasi dan partisipasi sahabat sangat penting sebagai apresiasi terhadap nilai-nilai sejarah dan pelestarian budaya Cianjur ini. Ayo ikuti terus penelusuran-penelusuran Cianjur Heritage lainnya! (Ilham)

Referensi
Suryaningrat, Bayu. 1982. Mengenal Kabupaten Daerah Tingkat II Cianjur. Cianjur: Pemda Cianjur.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Cianjur

One thought on “Menelusuri Makam Bupati-bupati Cianjur Lama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *