Juli 9, 2020

Bupati Menikah dengan Putri Jin (versi2)

Salam Heritage!

Setelah Sobat CH membaca cerita rakyat
Cianjur, mengenai pernikahan bupati pertama Cianjur yang menikahi
putri jin. Kisah pada Versi 1 yaitu dari awal riwayat kedatangan Bupati Cianjur pertama dari daerah Sagalaherang. Pada posting kali ini CH memuat kembali cerita tersebut dengan versi
yang sedikit berbeda. Cerita ini dimulai dari ‘episode’ pertapaan
Aria Wiratanu dengan cerita yang lebih rinci. Ingin tahu bagaimana
ceritanya? Simak kisah berikut ini:

—-||—-

Ketika Raden Aria Wiratanu keluar dari
kerajaan Talaga untuk melakukan tapa, tempat yang dipilihnya yaitu
batu besar “batu agung” yang terdapat di Sagalaherang. Di tempat
itu, beliau melakukan tapa selama 40 hari 40 malam. Di tempat itu konon merupakan negri jin yang
ditempati oleh tiga jin perempuan yang bernama Nyimas Arum Wangi,
Nyimas Arum Paka, dan yang bungsu Nyimas Arum Endah. Ketiga jin
tersebut yaitu putri dari Syah Jubaidi bin Satoto, keturunan Nabi
Hidir di negara tengah laut.

Setelah 40 hari 40 malam, dalem Cikundul
selesai melaksanakan tapa lalu berbicara dengan ketiga jin itu. Dalem
Cikundul bertanya siapa dan dari mana asal ketia jin perempuan itu.
Ketia jin itu menjawab bahwa mereka adalah putri-putri dari Syah
Jubaidi bin Satoto dari negri dalam laut, keturunan Nabi Hidir.
Mereka berada di tempat itu bukan bermaksud untuk menggoda Dalem
Cikundul yang sedang bertapa, tetapi ditugaskan oleh Allah untuk
menemani Dalem Cikundul saat bertapa di tempat itu.

Setelah beberapa lama berdiskusi dengan
Dalem Cikundul, timbulah rasa dari ketiga jin itu untuk menjadikan
Dalem Cikunduk menjadi suaminya. Tetapi Dalem Cikundul menolak hal
itu kemudian mengusir mereka. Setelah diusir, putri bungsu yaitu
Nyimas Arum Endah kembali lagi mendatangi Dalem Cikundul untuk
berbicara bahwa dirinya mendapatkan wasiat dan perintah dari Allah,
bahwa yang akan menjadi suaminya adalah orang yang bertapa di batu
agung, yang tiada lain yaitu Dalem Cikundul. Mendengar perkataan
demikian, Dalem Cikundul menyanggupi untuk menjadi suami dari putri
jin bungsu, Nyimas Arum Endah. 

Meskipun begitu, ada syarat yang
disampaikan oleh Dalem Cikundul yaitu apabila mendapatkan keturunan,
maka anaknya harus dipasrahkan kepada Dalem Cikundul dan dirinya
tidak boleh melihatnya lagi. Pernikahan antara putri bungsu dari
seorang raja jin dengan Dalem Cikundul yaitu di negri jin setelah
dipertemukan dengan ayahanda Nyimas Arum Endah.

Dari pernikahan tersebut terlahir tiga orang
putra, dua orang laki-laki dan satu perempuan, yaitu Raden
Suryakancana, Nyimas Endang Sukaesih dan Raden Kandaka. Setelah
dilahirkan ketiga putra tersebut dipasrahkan kepada ayahnya untuk
diasuh dan diurus hingga dewasa. Ketika menginjak usia 40 hari, Dalem
Cikundul akan mengadakan syukuran putra-putranya, yang laki-laki
dikhitan, begitu juga yang perempuan, dengan diadakan acara syukuran
yang besar. Kabar dari acara ini sagatlah luas hingga saudara-saudara
Nyimas Arum Endah juga mengatahuinya. Mereka memberi tahu kepada
nyimas Arum Endah bahwa keponakan-keponakannya itu, yaitu putra-putra
dari Nyimas Arum Endah akan dibunuh oleh bangsa manusia, yang saat
ini sedang mempersiapkan acaranya.

Dengan sigap Nyimas Arum Endah mendatangi
Dalem Cikundul. Dirinya mewujudkan kemarahannya dengan mendatangkan
angin topan yang begitu besar, sampai-sampai menerbangkan
putra-putranya. Raden Suriakancana terbang kemudian jatuh di Gunung
Gede. Nyimas Endang Sukaesih jatuh di Gunung Ceremai, dan Kandaka
jatuhnya di Gunung Kumbang. Mereka kemudian menetap di tempat
tersebut dan menjadi penghuni gunung-gunung tersebut setelah kembali
berubah eujud kepada wujud aslinya yaitu jin.

Sementara itu
Dalem Cikundul menyatakan bercerai dengan Nyimas Arum Endah yang
kembali lagi ke negerinya, ke negri jn, sedangkan Dalem Cikundul
pergi berkelana melakukan tapa di berbagai tempat sehingga pada
akhirnya disebut Jayasasana. Akhirnya, beliau meninggal di tempat
pertapaannya terakhit yaitu di kaki Gunung Gajah dana dimakamkan di
tempat itu, yang lokasinya berada di kampung Majalaya, desa Cijangan,
kecamatan Cikalongkulong saat ini.
—||—
Begitulah cerita
menurut versi ini, benar atau tidak tentang kejadian pada kisah ini CH kembalikan kepada pandangan
sobat semua. Semoga kisah ini memberikan hikmah.
Salam!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *