Oktober 25, 2020

Kacapi Indung, Ikon Kota Cianjur

Cianjur selalu diidentikkan dengan seni tembang
Cianjuran atau dalam istilah lain disebut juga seni mamaos. Perkembangan seni mamaos dimulai sekitar abad ke-18 yang
diprakarsai oleh seniman-seniman kadaleman di lingkungan pendopo kabupaten.
Sejak Bupati R.A.A Kusumahningrat atau yang lebih populer disebut Dalem
Pancaniti memperkenalkan seni mamaos ke khalayak yang lebih luas, kini seni
mamaos telah berkembang dan menyebar ke berbagai daerah. Seni mamaos adalah
sebuah penampilan seni suara (vokal) yang diiringi dengan kacapi indung sebagai
instrumen utama, sedangkan instrumen lainnya yang melengkapi iringan yaitu
suling dan kacapi rincik.
Kacapi Indung
Kacapi indung sebagai instrumen utama pengiring
mamaos ternyata tidak hanya eksis dalam seni musik, tetapi juga bentuk-bentuk
kacapi indung atau disebut juga kacapi gelung, atau kacapi parahu telah menjadi
inspirasi berbagai arsitektur yang dapat dikatakan menjadi ikon kota Cianjur.
Di beberapa tempat di kota cianjur terdapat replika-replika bentuk arsitektur
yang mengambil ide dari bentuk kacapi indung, seperti bentuk tugu, pada gapura,
bahkan digunakan pada kain batik.

Tampaknya kacapi indung telah menjadi inspirasi
untuk membuat suatu objek yang khas, yang dapat menunjukkan identitas kelokalan
Cianjur. Beberapa contoh struktur bangunan atau arsitektur lainnya yang
memiliki bentuk kacapi indung yaitu:
Tugu
Keluarga Berencana (KB): Perempatan Bypas-Ramayana

Tugu Keluarga Berencana
Tugu ini terletak di persimpangan jalan Dr.
Muwardi (Bypas) dengan Jl. Mangun Sarkoro (Jalan Raya). Struktur dengan bentuk
kacapi indung diletakkan di bagian atas tugu dengan puncaknya diletakkan
lambang dan moto Keluarga Berencana. Pengendara yang lewat ke persimpangan ini
dari arah Puncak ke Bandung via jalan Dr. Muwardi pasti akan menjumpai tugu
ini. Karena Jl. Dr. Muwardi adalah jalan utama perlintasan jalur
Puncak-Bandung, begitupun sebaliknya Bandung-Puncak via Cianjur lewat
Ramayana.  
Gapura
Gang Rinjani
Gapura Gang Rinjani
Struktur berbentuk kacapi indung diletakkan di
atas gapuran dengan gagah. Berwarna hitam dengan ornamen bunga berwarna putih.  

Taman
Joglo
Taman Joglo
Taman yang dulunga bekas terminal Joglo ini
memiliki arsitektur pilar berbingkai dengan ide bentuk ‘gelung’ dari kacapi
indung dan tiangnya terinspirasi dari suling. Letak taman ini di jalan
Siliwangi persimpangan dengan jalan Pangeran Hidayatullah.
Gapura SDN Ibu Dewi 3
Gapura SDN Ibu Dewi 3
SDN Ibu Dewi 3 memiliki struktur kacapi indung yang diletakkan di atas
gapura pintu pasuk utama. Replika kacapi disandingkan dengan replika kendang
dan kulanter yang terbuat dari beton. Struktur ini terletak di jalan Siliwangi
kompleks sekolah dasar negeri Ibu Dewi.  
 
Selain contoh yang telah ditampilkan,
sebenarnya masih ada beberapa lagi arsitektur yang menggunakan bentuk kacapi
indung, tetapi belum sempat CH ambil gambarnya. Tiga sruktur lainnya dapat
ditemui di sepanjang Jalan Raya Bandung. Yang pertama yaitu gapura selamat
datang di daerah Tungturunan dekat sungai Cisokan, lalu ada Gapura selamat
datang di daerah Karang Tengah, dan gerbang kota Cianjur di daerah persimpangan
tugu pramuka.
Batik Khas Cianjur
Batik Khas Cianjur
Bentuk kacapi dipakai juga pada ornamen kain batik khas Cianjur dengan dipadukan unsur bentuk padi dan beras khas Cianjur.

Makam Raden Etje Madjid

Makam Raden Etje Madjid

Makam yang dibentuk seperti alat musik kacapi indung ini adalah makam Raden Etje Madjid, yaitu salah satu seniman padaleman pada masa awal perkembangan seni mamaos. Karena bentuknya sangat berbeda dari makam lain di sektiranya, makam Rd. Etje Madjid ini cukup mudah untuk ditemukan di kompleks pemakaman Pasar Baru. Di kompleks ini juga terdapat makam salah satu bupati Cianjur dahulu yaitu Raden Wiranagara. Info lebih lengkap tentang makam ini dapat dibaca pada artikel Menelusuri Makam Bupati-bupati Cianjur Lama. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *