Juli 16, 2020

Cerita Kepahlawanan di Balik Nama Jalan

Pikiran Rakyat, Senin (Pahing) 24 November 2014 | 1 Safar 1436 H
Ditulis oleh Hendi Jo, Peneliti Sejarah

Gelap
masih membekap kawasan kota Cianjur. Matahari pagi belum berani
menampakkan diri saat beberapa anak muda berpakaian olah raga
bercengkrama di satu sudut kota itu. Suara mereka terdengar sedikit
ribut, mirip rombongan burung sawah yang sedang mencari makan.
Saya
mendekati anak-anak muda itu. Dari wajahnya, saya taksir usia mereka
masih 17 tahunan. “Olah raga, Kang?” tanya salah satu dari mereka
yang merupakan tetangga saya. Kami lantas terlibat dalam obrolan
ngalor-ngidul, mulai bicara tentang sekolah, pergaulan anak muda
sekarang hingga sejarah Cianjur.
“Eh
kalian tahu siapa dia?” tanya saya seraya menunjuk plang jalan yang
bertuliskan nama seseorang.
“Adi
Sucipta? Ya tahulah Kang, dia kan pahlawan Angkatan Udara kita,”
kata salah seorang dari mereka. Saya sebenarnya maklum dengan jawaban
itu. Alih-alih anak muda tersebut, orang-orang Pemerintah Kabupaten
Cianjur saja tak tahu menahu soal itu hingga kini. Buktinya, mereka
dengan serampangan menuliskan nama itu tanpa melakukan riset terlebih
untuk mencari tahu siapa orang yang akan dijadikan nama jalan. 

p { margin-bottom: 0.1in; line-height: 120%; }

RUAS Jalan Adi Sucipta
(seharusnya Jalan Asmin Sucipta), kesalahkaprahan sejarah?

p { margin-bottom: 0.1in; line-height: 120%; }

Bukan
Adi Sucipta
Sejatinya nama yang terpampang di plang jalan itu sejak tahun 1960-an
adalah A Sucipta atau lengkapnya Asmin Sucipta, nama seorang pejuang
Cianjur yang sangat ditakuti militer Belanda pada era perang
Kemerdekaan (1945-1949). Lantas, kenapa sejak 1980-an jalan tersebut
berubah menjadi Adi Sucipta? Kecurigaan saya, pihak yang berwenang
menamai nama jalan tersebut atas dasar spekulasi semata. Mereka
mengira A Sucipta adalah Adisucipto, seorang perintis TNI Angkatan
Udara yang bisa jadi selama hidupnya tak pernah menginjakkan kakinya
di Cianjur.
Soal
ini sesungguhnya pernah diingatkan oleh salah seorang sesepuh di
Cianjur, Rahmat Purawinata (64) yang pernah memberi tahu pemkab
Cianjur bahwa nama Jalan Adi Sucipta itu harusnya Jalan Asmin
Sucipta. Memang pada mulanya, Pemkab Cianjur sempat mengikuti usulan
Rahmat. Namun, begitu ia berhenti dari anggota DPRD Kabupaten
Cianjur, nama jalan tersebut balik lagi ke nama asalnya yang salah,
Jalan Adi Sucipta.
“Saya
sendiri sampai sekarang tidak tahu apa yang menjadi penyebab
berubahnya kembali nama jalan itu,” ujar lelaki yang masih memiliki
hubungan darah dengan pejuang Asmin Sucipta tersebut.
Ketidakjelasan
juga dialami nama jalan di wilayah Bojongherang, kawasan dekat
jantung kota Cianjur. Di sana ada jalan bernama MH Kabir. Padahal,
sejatinya nama yang benar untuk jalan tersebut adalah Jalan Mayor
Harun Kabir, seorang perwira Divisi Siliwangi yang gugur ditembak
militer Belanda di daerah Cioray pada November 1947.
Kendati
ada di bagian pusat kota, nama Mayor Harun Kabir pun sama sekali tak
pernah dikenal oleh orang-orang Cianjur, terlebih oleh generasi
mudanya. Ipang (bukan nama sebenarnya), seorang anak muda yang kerap
nongkrong di kios depan jalan tersebut malah mengira MH Kabir adalah
nama salah seorang ulama terkenal di Cianjur. “Saya kira, huruf ‘M’
di depan nama Kabir itu adalah ‘Muhammad’, eh ternyata ‘mayor’ ya?”
katanya sambil tersenyum.
Putusnya
mata rantai sejarah
Terkait
putusnya mata rantai sejarah sebagian besar orang-orang Cianjur
dengan masa lalunya, diakui pula oleh sesepuh Cianjur lain, Mulyadi
(75). Menurut putra salah seorang tokoh pergerakan Cianjur di era
revolusi, R Dumbon Sumintaputra, sesungguhnya banyak cerita penting
di balik nama jalan yang ada di kawasan Cianjur. “Almarhum bapak
saya dulu sering cerita siapa orang-orang tersebut,” kata Mulyadi.
Salah
satunya adalah Taifur Yusuf. Nama yang dipakai untul jalan besar yang
membelah tengah kota Cianjur itu sejatinya merupakan nama seorang
tokoh pergerakan pemuda yang pada sekitar 1947 gugur dibunuh militer
Belanda di Kampung Bojongreungit (ada di sebelah timur Jalan Prof
Mochamad Yamin).
Ceritanya,
suatu hari militer Belanda melakukan operasi pembersihan terhadap
orang-orang yang dicurigai sebagai kaum republik. Taifur yang dikenal
licin menghadapi sergapan militer Belanda pada mulanya berhasil
menyembunyikan dirinya di sebuah rumah. Namun, begitu militer Belanda
mundur dan ia keluar dari persembunyian, seorang
sniper
militer Belanda menghabisi hidup Taifur saat ia berjalan tenang di
pematang sawah. “Mereka menyisakan penembak jitunya untuk membunuh
Pak Taifur yang mereka percaya masih ada di wilayah tesebut,”
ungkap Mulyadi.
Di
wilayah pertigaan Cikidang (Masuk wilayah Desa Sayang Heulang) hingga
kini dikenal dua gang bernama Gang Edi I dan Gang Edi II. Menurut
Mulyadi, sekitar tahun 1947, di kawasan tersebut pernah terjadi suatu
penghadangan patroli militer Belanda oleh pasukan Tentara Republik
Indonesia (TRI) di bawah pimpinan Letnan Darna. Penghadangan tersebut
menimbulkan pertempuran seru yang mengakibatkan pertempuran hebat di
kedua pihak.
“Dua
adak buah Letnan Darna ikut gugur pula di sana. Uniknya, kedua
prajurit yang gugur itu sama-sama bernama Edi. Maka untuk
mengabadikan nama mereka disematkanlah nama Edi I dan Edi II sebagai
nama dua gang yang ada di kawasa tersebut sampai sekarang,” kata
pensiunan Dinas Kesehatan itu.
Masuk
dari arah Puncak menuju Jalan Taifur Yusuf, di sebelah kanan ada
tersebut Jalan Imun Soelaiman. Rute tembusan menuju Masjid Agung
Cianjur dan Pasar Induk Cianjur itu diambil dari nama seorang anggota
Batalyon III Resimen III TRI yang gugur saat pertempuran dengan
serdadu Inggris pada 13 Maret 1946. Menurut almarhum Kolonel (Purn)
Eddie Soekardi (Komandan Resimen III TRI), Letnan II Imun Soelaiman
tertembak di ujung bantalan rel kereta api jembatan Cisokan. “Leher
dan punggungnya dihantam mitralleur serdadu Inggris,” ungkap
Kolonel Eddie kepada saya April lalu.
Harus
diperjuangkan
Selain
nama-nama di atas, banyak jalan di Cianjur diambil dari nama-nama
pahlawan asal kota beras itu. Sebut saja di antaranya Jalan
Amalia-Rubini yang menjadi perlintasan bus-bus dari arah Bandung
menuju Terminal Pasirhayam. Sesungguhnya, Amalia-Roebini merupakan
nama seorang pasangan suami istri asal Kampung Pataruman. Mereka
berdua dikenal sebagai pejuang bawah tanah yang secara gigih melawan
kekuasaan Jepang di Cianjur. Karena perlawanannya tersebut, Amalia
dan Roebini ditangkap dan diasingkan ke Borneo (sekarang Kalimantan).
Di sanalah mereka menemui ajalnya di mulut senapan pasukan Jepang.
Nama
yang tak kalah penting dan bersejarah bagi rakyat Cianjur adalah
Gatot Mangkoepradja. Menak Cianjur yang dikenal sebagai salah seorang
sahabat dekat Bung Karno itu dikenal karena jasa-jasanya dalam
pendirian Peta (Pembela Tanah Air) di era kekuasaan militer Jepang.
Kini namanya disematkan pada nama jalan yang melintasi bekas rumahnya
di wilayah Bihbul, Desa Nagrak. Sayangnya, rumah bekas kediaman Gatot
sekarang sudah raib digantikan bangunan lain. “Padahal, menurut
cerita-cerita masyarakat setempat, dulu waktu zaman Jepang, Bung
Karno pernah sering terlihat keluar masuk rumah tersebut,” ungkap R
Agus Tohsin.
Selain
nama para pejuang laki-laki, Cianjur juga memiliki beberapa jalan
yang namanya diambil dari nama-nama penjuang perempuan kota tersebut.
Adalah Rd Adjeng Tjitjih Wiarsih (lebih dikenal oleh orang-orang
Cianjur sebagai Juag Cicih) dan Siti Jenab, dua pahlawan pendidikan
dan emansipasi perempuan Cianjur pada era Hindia Belanda. Nama Rd
Adjeng Tjitjih Wiarsih kini diabadikan untuk sebuah nama jalan kecil
menuju Pasar Bojongmeron dari arah Jalan Muhamad Ali. Sementara itu,
Siti Jenab dijadikan nama jalan besar yang melintasi Kantor PLN.

Namun,
adakah generasi Muda hari ini mengerti peran mereka dalam perjuangan
mempertahankan kemerdekaan dahulu? Jawaban anak-anak muda yang saya
temui pagi itu di Jalan Asmin Sucipta, menjadi bukti bahwa semua itu
baru harapan. Ya, harapan yang harus diperjuangkan terutama oleh
pemerintah setempat dan masyarakat Cianjur sendiri. (Hendi Jo,
peneliti sejarah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *