Juli 13, 2020

Salah Kaprah Dongeng Asal Mula Cianjur

Dari beberapa sumber saya mendapatkan informasi bahwa dongeng asal-muasal terjadinya kota Cianjur mirip dengan salah satu dongeng di daerah lainnya. Di internet dan buku yang telah terbit terdapat beberapa cerita tentang asal muasal kota Cianjur. Tetapi, yang paling dominan adalah kisah tentang seorang saudagar kaya yaitu Pak Kikir.

Dikisahkan Pak Kikir ini sangat pelit, sehingga akibat perbuatan serakah dan tidak mau bersedekah kepada seorang, maka desa yang ditinggalinya terendam oleh karena kekuatan kutukan seorang nenek. Lebih lengkapnya bisa dibaca di website Cerita Rakyat Nusantara.

Dongeng Situ Bagendit mengisahkan sosok Nyi Endit yang kikir.

Kisah dengan alur demikian bisa ditemukan dalam cerita lain, yaitu asal-mula terjadinya Situ (danau) Bagendit, di kabupaten Garut (Baca di sini). Bukunya pernah diterbitkan juga oleh Pustaka Jaya tahun 1976. Dalam dongeng Situ Bagendit diceritakan seorang wanita kaya bernama Nyi Endit tidak mau memberi sedekah kepada nenek yang datang ke rumahnya. Akibatnya, desa yang ditinggalinya itu kemudian dikutuk oleh si nenek, sehingga tenggelam menjadi sebuah danau. Situ Bagendit dinamai demikian karena konon diambil dari nama Nyi Endit yang tenggelam bersama desanya dalam cerita tersebut.

Dari perbandingan sederhana dapat dikatakan bahwa dongeng asal-muasal kota Cianjur yang tersebar luas di internet sangat mirip, bahkan sama dengan asal-muasal Situ Bagendit, hanya tokohnya dibalik: Nyi Endit diganti dengan Pak Kikir. Lalu bagian akhirnya ditambah sedikit narasi. Kenapa bisa demikian?

Tidak Berdasarkan Tradisi Lisan & Ingatan Kolektif Masyarakat

Dongeng asal muasal kota cianjur versi Situ Bagendit (yang salah kaprah) ini beredar dari tahun 2000-an. Saya menduga, dongeng ini hanya rekaan dari pihak yang tidak bertanggungjawab belaka, dengan meniru dongeng aslinya, Situ Bagendit dari Garut. Ketika saya coba mengkonfirmasi kepada sesepuh-sesepuh Cianjur di berbagai tempat sekitar Cianjur tentang kisah asal-usul Cianjur yang seperti Situ Bagendit itu, mereka heran, karena tidak pernah mendengar cerita semacam itu!

Kesimpulanya adalah bahwa kisah “Asal-usul Kota Cianjur” dengan mengangkat tokoh “Pak Kikir” belum bisa disebut sebagai folklore, karena tidak berdasarkan tradisi lisan dan ingatan kolektif masyarakat setempat. Dongeng semacam ini lebih merupakan kisah kontemporer, adaptasi dari dongeng lain yang lebih tua (Situ Bagendit).

Cianjur di kaki Gunung Gede, bukan cekungan danau.

Kondisi Geografis Tidak Mendukung

Dongeng sasakala Cianjur versi “Pak Kikir” tidak dibarengi dengan rasionalisasi geografis dan letak kota Cianjur yang berada di kemiringan kaki Gunung Gede. Dengan kondisi seperti ini, kota Cianjur tidak mungkin tenggelam dalam banjir. Berbeda dengan dongeng situ Bagendit yang secara geografis berbentuk cekungan, sehinggi memliki kemungkinan yang kuat terbentuknya sebuah danau.

Begitu pula dengan dongeng Sangkuriang atau asal-muasal kota Bandung. Dalam dongeng Sangkuriang diceritakan bahwa pernah dibuat sebuah danau besar di sebuah tempat yang kita kenal dengan Bandung dewasa ini. Hal ini dikuatkan dengan bukti fisik geologi dan arkeologi bahwa daerah Bandung merupakan cekungan, sehingga pada jaman dahulu pernah terbentuk sebuah danau raksasa.

Lain halnya dongeng asal-muasal kota Cianjur dirasa tidak relevan dengan keadaan fisik Cianjur berkontur miring. Apakah mungkin sebuah legenda tempat kejadian, sangat tidak berhubungan dengan kontur wilayahnya?

Aliran Sungai Cianjur, membelah kota Cianjur.

Lebih jauh tentang asal-muasal kota Cianjur biasanya tak terlepas dari kedatangan penggagas kota Cianjur yaitu Raden Wiratanu dari kerajaan Talaga, Subang. Barulah dari perjalanan kesejarahan tersebut muncul berbagai dongeng yang sangat erat kaitannya dengan kota Cianjur.

Dongeng-dongeng Asli Kota Cianjur

Dongeng-dongeng yang berkaitan dengan asal mula kota Cianjur di antaranya Sasakala Pemandian Badak Putih, Asal-Muasal Ayam Pelung, Asal Muasal Padi Pandan Wangi, Raden menikah dengan putri jin, Eyang Surya Kancana, Sasakala Gunung Padang, dll. Cerita-cerita yang banyak berkembang di Cianjur terutama berkaitan dengan kejadian di lokasi setempat dan berkaitan dengan pemberian nama lokasi. Dalam istilah lain disebut toponimi

Salah Kaprah Terlanjur Menyebar

Sayangnya, dongeng asal-mula Cianjur versi Situ Bagendit ini terlanjur menyebar di internet, bahkan sudah diterbitkan menjadi buku dan dibuatkan animasinya (bisa dilihat di Youtube). Padahal dongeng ini merupakan salah kaprah yang sangat besar, dan karenanya makan terjadi kecenderungan pembohongan publik.   

Dari sekian banyak dongeng Cianjur yang beredar, kebanyakan berisi kisah salah kaprah tentang “Pak Kikir”. Tapi, ada sebuah buku yang saya nilai lebih asli, dengan mengangkat nilai-nilai lokal, bahkan memperoleh prestasi di tingkat nasional (peraih Hadiah Samsudi, dari Yayasan Kebudayaan Rancage). Buku tersebut berjudul Asal-usul Hayam Pelung jeung Dongeng-dongeng Cianjur Lianna karya Tatang Setiadi. Sebuah kumpulan dongeng dengan pengkajian sejarah dan sosial-budaya masyarakat Cianjur sehingga dapat dipertanggungjawabkan dengan nyata, sesuai dengan kondisi alam kota Cianjur. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *